PT Pos Indonesia (Persero) sebagai salah satu pewaris perusahan jasa pos dan telekomunikasi (Post Telefon en Telegraf) milik pemerintah kolonial Hindia Belanda mempunyai  banyak bangunan kantor pos bersejarah di Indonesia. Bangunan-bangunan tersebut dapat dijumpai di kota-kota besar Jawa terutama yang menjadi lintasan jalan Pos Raya. Salah satunya bangunan yang menarik adalah Gedung Filateli Jakarta sekarang atau dulu dikenal dengan sebutan Kantor Pos Pasar Baru Jakarta. Dari namanya segera diketahui berada di kawasan Pasar Baru Jakarta jalan Pos. Bangunan warisan arsitektur kolonial ini telah dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya atau konservasi di Jakarta. Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475/1993, gedung ini masuk daftar cagar budaya dengan kategori A yang harus dikonservasi serta dimungkinkan tidak terjadi perubahan baik eksterior maupun interior arsitektur  bangunan.

 

Sekarang gedung bersejarah yang indah dan megah ini tidak lagi digunakan untuk aktivitas pelayanan jasa pos setelah semua aktivitas pelayanan dipindahkan gedung baru yang menghadap lapangan Banteng. Selanjutnya bangunan ini digunakan untuk kantor pelayanan Filateli  sehingga dikenal sebagai Gedung Kantor Filateli Jakarta. Dalam perkembangannya sebagai akibat perawatan yang tidak intensif sehingga terjadi beberapa kerusakan yang cukup berarti, bahkan terjadi beberapa perubahan fungsi yang memiliki kecenderungan merusak sosok bangunan dan arsitekturnya. Padahal peranan bangunan ini sangat kuat sebagai landmark maupun focal point di kawasan Lapangan Banteng – Pasar Baru (Juwono, 2002) serta yang lebih penting menjadi urban linkage bagi kawasan Lapangan Banteng, Gedung Kesenian Jakarta dan kawasan Pasar Baru. Hal ini menimbulkan persoalan bagaimana mempertahankan dari kerusakan dan mengembangkan fungsinya.

 

Dari aspek lokasi, bangunan berada di kawasan Pasar Baru yang dianggap memiliki nilai strategis berada di kawasan komersial, pendidikan, pusat aktivitas budaya maupun pusat aktivitas pemerintahan. Kini kondisi Pasar Baru diuntungkan oleh keberadaannya pada node transportasi kawasan Jakarta.  Bahkan sekarang menjadi salah satu node transportasi Bus Way sehingga memiliki potensi untuk menghidupkan aktivitas kawasan (Juwono dan Trikariastoto, 2005). Dalam kerangka kebijakan strategis korporat, bahan masukan bagi PT. Pos Indonesia melakukan konservasi dan revitalisasi. Bila ditinjau skala manfaatnya program konservasi dan revitalisasi sejalan dengan bagian program CSR (Corporate Social Responsibility) yang dikembangkan PT. Pos Indonesia, yaitu sekaligus melakukan penataan terhadap lingkungan sekitar yang bersinggungan langsung dengan aktifitas Gedung Pos Indonesia ini.

 

Konservasi dan revitalisasi merupakan kelanjutan dari penataan lingkungan yang telah dilakukan diharapkan memberi manfaat sebagai berikut : (1) Mengaktifkan kembali aktivitas gedung Filateli Jakarta yang sekarang telah menjadi sentra penjualan benda filateli,  barang barang koleksi seperti numistik, foto tua, kartu pos serta benda pos lain. Pengembangan serta penataan lingkungan ini diharapkan dapat meningkatkan perannya menjadi supporting activity bagi kawasan Pasar Baru, (2) Penataan gedung dan lingkungannya mengacu pada ketentuan bangunan konservasi serta revitalisasi yang memungkinkan meningkatkan nilai teknis maupun ekonomisnya. Beberapa hal yang harus ditangani antara lain adalah perbaikan terhadap kerusakan kerusakan elemen gedung dan perbaikan tampilan seperti penataan elemen penunjang lighting maupun furniture street yang menunjang karakteristik bangunan. (3) Mengembalikan  nilai nilai arsitektur gedung kantor pos kolonial yang berada di tepi sungai sebagai jalinan riverscape  yang unik  bersama dengan mengintegrasikan kembali sebagai bagian struktural kawasan.

 

Program ini secara eksternal meliputi : (1) Perhatian terhadap pedagang kaki lima yang sekarang ini telah dalam beberapa kasus justru menutupi lingkungan sekitar karena tidak tertata dengan baik  (menutupi fasad bangunan) sehingga menimbulkan pandangan yang tidak menarik. Melalui konsep penataan yang diintegrasikan revitalisasi gedung Kantor Filateli Jakarta maka keberadaan pedagang kaki lima yang representatif akan membangun daya tarik wisata, (2) Mengembalikan posisi gedung Filateli Jakarta sebagai land mark serta focal point bagi lintasan jalan Pos Raya sehingga mampu menjadi bagian serial vision bagi pergerakan lalu lintas pemakai mobil. Saat ini kondisinya tidak memungkinkan karena tertutup oleh berbagai aktivitas pedagang kaki lima, bangunan baru serta elemen lingkungan lainnya, (3) Pengembangan aktivitas penyediaan parkir  lingkungan terpadu bagi Gedung Kesenian Jakarta dan kompleks sekolah St.  Ursula, saat ini pada waktu waktu tertentu menjadi penyebab kemacetan pada jalan Lapangan Banteng Utara. Dengan konsep penyediaan parkir bagi pengantar – penjemput siswa sekolah St. Ursula, yang sering memacetkan lalu lintas di Jalan Lapangan Banteng, (4) Mendukung rencana pengembangan koridor wisata “ jalan-jalan (city walking)“ dari Hotel Borobudur –Lapangan Banteng- mesjid Istiqlal-Katedral dengan kawasan Pasar Baru yang merupakan kawasan wisata dan perbelanjaan bertaraf internasional. Konsep ini memanfaatkan sepenuhnya keberadaan lingkungan Gedung Pos Ibukota sebagai simpul perjalanan dan pemberhentian yang memiliki daya tarik.

Iklan