Tampak gedung Filateli sebelum dirapihkan dari kerumunan pedagang kaki lima.

Tampak gedung Filateli sebelum dirapihkan dari kerumunan pedagang kaki lima.

Gedung Filateli sekarang (foto diambil pada tahun 2007)
Gedung Filateli sekarang (foto diambil pada tahun 2007)

    Nilai sejarah kawasan Pecinan Pasar Baru tidak kalah dengan nilai sejarah kawasan tua Jakarta lainnya seperti kawasan Kali Besar atau kawasan Taman Fatahillah. Namun disayangkan arsitektur khas Pecinan sudah tidak banyak dibongkar kecuali Toko Kompak jalan Pasar Baru 18A dan beberapa rumah lain. Hanya sisa-sisa wuwungan atap yang masih tersisa namun bangunan di bawahnya sudah mengalami perubahan. Sekalipun gerbang Pasar Baru dibangun bergaya ” Pecinan ” tetapi sesungguhnya perlu dipertanyakan  apakah tujuan keberadaan gerbang yang tidak historis ini. Berbagai gambar lama sama sekali tidak sesekalipun menunjukkan kehadiran gerbang masif ini. Agaknya gerbang ini dibuat akibat kelatahan pada upaya rekonstruksi Pecinan di kota-kota lain. Tetapi apakah untuk menunjukkan Pecinan harus seperti itu ? Bukankah ada cara lain yang lebih bagus dengan menata fasad toko-toko di koridor tersebut. 

Kawasan perbelanjaan Pasar Baru tidak dapat tidak sangat berhubungan dengan “ ikon Passer Baroe “ yang mulai dipakai dalam beberapa tahun belakangan ini kembali untuk menyebut perbelanjaan tua yang telah ada sejak tahun 1820 ini. Model window shopping  sepanjang koridor Pasar Baru ini menjadi ciri khas, meskipun kecenderungan ini mulai memudar karena ada konsep toko toko lama mulai berubah fasadnya menjadi “ mall atau pertokoan yang meruang di dalamnya “ bukan konsep toko toko ber-etalase.

 

Sejak tahun 2000, kawasan Pasar Baru ini dihidupkan kembali untuk mengingatkan kembali kebesaran serta nostalgia mengunjungi salah satu tempat berbelanja prestisius jaman kejayaan Hindia Belanda. Gagasan tentang perbelanjaan ini tidak kepalang tanggung yaitu Pusat Wisata dan Perbelanjaan Bertaraf Internasional. Melihat penampilan Pasar Baru sekarang tentu tidak terbayang pada foto foto lama yang menunjukkan pasar ini bermula dari tempat berjualan kuda. Orang orang Cina sudah menempati kawasan Weltervreden yang merupakan jantung kota Batavia yajng dijuluki “ The Queen of East “ karena keindahannya. Aliran sungai Ciliwung yang menghubungkan dengan kawasan Oud Batavia dengan kawasan Neiuw Batavia membatasi kawasan Pasar Baru dengan lingkungan jalan Pos Raya ( dulu Post Weg ) dan jalan Dr Sutomo (dulu Scholl Weg yang berarti jalan sekolah).

Tradisi belanja di Pasar Baru telah ada sejak jaman noni noni Belanda yang dikenal sebagai surga berbelanja sepatu, pakaian serta berbagai kelengkapan wanita. Sepatu sepatu produksi Pasar Baru dikenal  memiliki kualitas tinggi. Toko toko yang ada bersaing kuat dengan toko toko di Glodok. Selain itu terdapat restoran Eropa dan Cina dan paling terkenal seperti Snoep Huis yang menjual minuman hangat dan es krim coklat. Tentu saja pada masa lalu hanya yang berkantung tebal yang mengunjungi Pasar Baru, tapi sekarang hampir semua kelompok masyarakat dapat membeli barang barang yang ada mulai dari kelas kaki lima hingga kelas barang import. .

Hingga kini masyarakat Jakarta masih suka mengunjungi Pasar Baru untuk berbelanja sepatu tidak hanya di toko tapi juga di pedagang kaki lima yang nyaris menutupi koridor jalan ini ke arah jalan KH Samanhudi. Sehingga bila hari mnggu atau pulang kerja, suasana lingkungan ini kelihatan ramai orang orang lalu lalang.

Menikmati berjalan jalan di koridor “ pedestrian malls “ Pasar Baru serasa berada di lingkungan Jakarta yang berbeda. Aura serta suasana kebesaran Pasar Baru masih dapat dirasakan getarannya. Kawasan ini memiliki energi yang terpendam. Terbayang noni-noni berjalan-jalan tertawa-tawa membawa payung mereka menyusuri jalanan keluar Sadarkah kita, bahwa di kawasan Pasar Baru, ada beberapa tempat ibadah, mulai dari mesjid, vihara atau kelenteng, gereja, katedral hingga kuil Sikh. Memang tidak hanya etnis Cina saja yang tinggal di Pasar Baru, orang-orang India juga menempati daerah ini. Gedung Katedral Jakarta yang dibangun tahun 1901 berhadapan dengan mesjid Istiqlal. Dari keragaman tempat ibadah yang saling berdekatan hidup rukun damai ini apakah tidak pantas kawasan ini diangkat sebagai area toleransi  beragama di Jakarta.

Selain keberadaan sebagai kawasan belanja dan bersejarah, kawasan ini masih menyimpan keunggulan lainnya. Obyek hiburan dan fasilitas akomodasi dari kelas restoran hingga kaki lima, hotel hotel dan penginapan tersebar di kawasan ini.

 Meskipun memiliki seabreg potensi luar biasa sebagai tempat kunjungan wisata baik sebagai tempat berbelanja maupun lingkungan bersejarah namun realitas yang ada belum terlalu menggembirakan. Banyak peluang yang belum dimanfaatkan sebaik baiknya untuk mendongkrak keberadaanya sebagai “ magnet kawasan “. Hal ini disebabkan masing masing obyek  unggulan seakan akan berdiri sendiri (Juwono, 2002) bukan dalam suatu jaringan kawasan yang saling menunjang satu dengan yang lain.

Sebagai contoh Gedung Kesenian Jakarta hanya melakukan aktivitasnya pada waktu malam sedangkan di Pasar Baru tidak ada “ kehidupan malam “ yang menarik seperti café di antara pedestrian mall-nya. Gedung gedung tua bersejarah tidak dapat dinikmati kecuali secara visual belaka.

Padahal sangat memungkinkan kawasan ini menjadi hidup pada waktu malam hari. Bertabur lampu-lampu yang berpendar menerangi jalan jalan di tepi sungai sehingga para pengunjung dapat menikmati suasana Batavia lama.

Faktor yang sangat penting dan sangat menguntungkan posisi kawasan ini adalah kemudahan  dijangkau kendaraan umum dari segala arah. Kereta api dari arah Stasiun Kota, Jatinegara atau Gambir berhenti di Stasiun Juanda, pengunjung dapat berjalan kaki ke Pasar Baru yang tidak seberapa jauh.

Di lingkungan Pasar Baru terdapat gedung Antara yang memiliki arsitektur menarik bergaya Art Deco sekarang menjadi Museum Fotografi. Berbagai foto tua bisa kita lihat di sini hanya sayang masyarakat Jakarta sendiri banyak yang belum mengetahui. Tepat menghadap gerbang Pasar Baru terdapat gedung Kesenian (dalam bahasa Belanda disebut Stadsschouwbourg) yang didirikan pada tahun 1821 dari bahan bahan bekas penjara wanita  dan rumah sakit orang orang Cina. Gedung Kesenian Jakarta yang direstorasi pada tahun 1987 hingga sekarang menjadi salah satu gedung pertunjukan yang bergengsi di Jakarta. Pentas balet, drama, opera hingga kesenian tradisional seperti lenong, ketoprak dan sebagainya sering diselenggarakan di sini. Pada wal pembangunan gedung Kesenian ini masih sangat sederhana  terbuat dari bangsal bambu (Heuken, 1997). Banyak peristiwa bersejarah bergulir di gedung ini. Gedung ini tidak hanya menjadi gedung pertunjukan, tahun 1926 kongres pemuda pertama diadakan di gedung ini kemudian pada jaman pendudukan Jepang gedung megah ini pernah menjadi markas tentara. Pada tanggal 29 Agustus 1945 Presiden Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia ( KNIP ) di gedung ini.

Bangunan paling tua di bilangan Lapangan Banteng adalah gedung bekas kantor pemerintahan yang disebut Het Groote Huis (Rumah Besar).  

Namun demikian patut disayangkan banyak juga tempat usaha atau gedung bersejarah yang sudah beralih fungsi. Banyak gedung gedung tua direnovasi secara sembarangan tidak memperhatikan aspek arsitekturalnya dan nilai nilai kesejarahan. Atau keberadaan sungai Ciliwung yang tidak seindah dulu karena tercemar polusi sehingga pekat dan hitam airnya menjadi pemandangan yang tidak menarik. Akibatnya obyek tersebut berkurang nilai keindahannya dan mengurangi nilai kawasan secara       Bangunan bangunan bersejarah lain seperti Gedung Kesenian Jakarta,  Kantor Pos Lama Pasar Baru,   Gedung Antara, gedung SMK Budi Utomo, gedung Kimia Farma, gedung biara dan sekolah Santa Ursula.

 

Gedung Filateli

      Melalui sejarah kita bisa menelusuri imajinasi masa lalu keberadaan gedung ini dalam posisinya berada pada gerbang kawasan Pasar Baru dan Lapangan Banteng. Dalam buku Akihary diinformasikan bahwa gedung Kantor Pos Pasar Baru Jakarta  dirancang oleh J van Hoytema dari Dinas BOW tahun 1913 (Akihary, 1988). Keberadaan Kantor Pos ini sangat berkaitan dengan sejarah kawasan Weltervreden yang menjadi pusat kota Nieuw Batavia yang menandai perkembangan kota  Jakarta sekarang ini.  Bila sebelumnya pusat kota berada di Kota Tua maka, setelah Weltervreden memiliki Waterlooplein dan Koningsplein maka seluruh aktivitas pemerintahan dipindahkan ke pusat kota yang baru ini.

Dari dokumentasi foto foto yang ada diduga kuat gedung sekarang ini merupakan generasi ketiga kantor pos yang telah dibangun di Post Weg (sekarang jalan Pos) bukan Groote Post Weg (jalan Pos Raya) yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels untuk jalur transportasi pulau Jawa). Kawasan ini merupakan kawasan Pecinan dan perbelanjaan elite Belanda pada masa lalu mulai berkembang  sejak masa pemindahan kantor  administrasi Gubernur  Jenderal Hindia Belanda dari Oud-Batavia  (Kota Lama) ke Nieuw Batavia -Weltervreden  (sekarang kawasan Lapangan Banteng).

Kawasan pemerintahan baru yang berdampingan dengan kawasan pendidikan serta perdagangan Pasar Baru ini memerlukan dukungan layanan penghubung pengiriman dokumen dan komunikasi sehingga dibangun gedung di tepi Ciliwung untuk mengakomodasi layanan tersebut. Bangunan ini makin dikembangkan seiring perkembangan kantor pos di Batavia. Sekarang ini merupakan bangunan pengganti dari bangunan kantor pos yang telah ada sebelumnya. Dirancang tahun 1913 an oleh arsitek J. Van Hoytema dari BOW (Akihary, 1990).

  Gedung ini kemudian menjadi milik Perusahaan Negara Pos Telekomunikasi (PN POSTEL). Pada tahun 1965 PN POSTEL dipisahkan menjadi dua perusahaan yaitu PN Pos dan Giro dan PN Telekomunikasi. PN Pos dan Giro kemudian berubah nama menjadi Perusahaan Umum Pos dan Giro, dan tahun 1995 berubah lagi menjadi PT Pos Indonesia. Pada awal kemerdekaan, gedung ini digunakan untuk pelayanan pos, telpon dan telegraph. Pada tahun 1995 dibangun perkantoran baru yang disebut Gedung Pos Ibukota (GPI). Gedung Kantor Pos Lama Pasar Baru kemudian  diperuntukkan sebagai kantor pelayanan filateli dan kantor cabang Persatuan Filateli Indonesia di Jakarta. Secara hukum, kepemilikan gedung dan lingkungan ini adalah milik PT Pos Indonesia (Persero). Sebagian gedung yaitu pada sayap kiri gedung dimanfaatkan oleh PT. TELKOM semula digunakan sebagai layanan telegram menjadi tidak terawat dan kumuh.

Setelah layanan pos dipindahkan ke gedung baru, maka Gedung Kantor Pos ini kemudian dikenal sebagai Gedung (Kantor) Filateli Jakarta yang melayani penjualan dan pemesanan benda filateli serta penjualan benda benda koleksi, serta aktivitas lelang. Akibatnya aktivitas gedung ini semakin menyurut dan berdampak perhatian terhadap fisik bangunan semakin menurun. Akibat yang terjadi mulai terjadi kerusakan atau pemanfaatan yang tidak semestinya yang berisiko pada kerusakan bangunan. Pengembangan bangunan yang memperhatikan historis bangunan dan lingkungan akan memberikan value kawasan. Hingga pada tahun 2007, ST Triakariastoto pengajar arsitektur Universitas Persada YAI Jakarta, Sudarmawan Juwono pengajar serta pegawai pos dan Sutejo pegawai pos atas ijin Rusdi pejabat di lingkungan PT Pos melakukan presentasi di Pemerintah Kota untuk mengajukan penataan lingkungan yang difasilitasi Kantor kecamatan Pasar Baru. Pemerintah kota melalui Sudin UKM menyetujui pemindahan tanpa penggusuran. Hasilnya pedagang kaki lima dipindahkan ke samping kiri bangunan. Program ini tidak terlepas dari kerugian dan keuntungan, banyak pihak yang masih menyayangkan kenapa pedagang kaki lima masih diberi hak hidup di lingkungan tersebut. Keempat pemrakarsa tersebut mengatakan bahwa selayaknya mereka diberi hak bekerja yang layak secara manusiawi. Proses revitalisasi atau konservasi selalu mengundang kontroversi namun terlepas dari semua itu, kita yakin bahwa pilihan ini yang terbaik. Kita terus belajar. Selamat berjuang terus komunitas Post Heritage demi kesejahteraan dan kemuliaan peradaban bangsa.

     Sepanjang pengamatan penulis banyak tulisan Pasar Baru yang tidak mengkaitkan dengan keberadaan Kantor Pos Lama Pasar Baru sekarang menjadi Gedung Filateli. Padahal dilihat dari proses perkembangan kota maka sejarah, kantor pos tersebut merupakan bagian dari kawasan Pasar Baru. Konservasi gedung kantor pos tersebut harus dikaitkan keberadaannya dalam kawasan tersebut. Sejarah Pasar Baroe

 

Iklan