Gedung kantor pos Medan merupakan salah satu bangunan kolonial cagar budaya dengan nilai-nilai arsitektur sangat menarik. Eksplorasi gedung ini masih sangat terbatas pada beberapa deskripsi fisik yang kurang mendalam serta tidak memperhatikan nilai-nilai arsitekturnya.

Medan Kota Kolonial
Perkembangan Medan menjadi kota besar menerima banyak berbagai budaya lokal maupun asing seperti India, Cina dan Belanda. Hal ini semakin pesat terjadi ketika Belanda menguasai Medan dan sekitarnya, proses interaksi budaya dengan para pendatang semakin tinggi. Orang India, Arab maupun orang-orang asing dari daratan Cina didatangkan sebagai pekerja menempati Medan. Jejak-jejak alkulturasi budaya dalam konteks arsitektur ini dapat dilihat dari berbagai bangunan yang ada di sini.
Pemerintah Belanda membangun kota ini baik secara fisik maupun sosial sebagai kota yang memiliki ciri ciri kota kolonial. Budaya kolonial Belanda yang dominan tidak serta merta menghapuskan lokalitas tersebut bahkan sebaliknya beradaptasi dengan budaya setempat. Keragaman tersebut membentuk karakter kota Medan yang pluralistik dan unik.
Salah satu peninggalan kolonial di kawasan pusat kota Medan adalah gedung Kantor Pos Medan. Bangunan ini berada di depan lapangan Kesawan yang dulu bernama Esplanada. Sekilas bangunan ini nampak megah dan berbeda dengan berbagai bangunan kolonial lain yang ada di lingkungan tersebut. Gedung ini hingga sekarang masih dipakai sebagai wadah pelayanan pos. Menurut Luckmann pelayanan pos di Medan sudah ada sejak tahun 1879 atau 1883. Pada saat kantor pos dibangun, kota Medan sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini tidak mengherankan karena Medan merupakan kota besar di Sumatera sehingga tidak mustahil berbagai aktivitas industry, perkebunan dan perdagangan sudah berkembang pesat dan membutuhkan layanan jasa pos.

Land Mark Medan
Bangunan ini dianggap sebagai land mark atau tetenger (penanda) bagi kota Medan. Bangunan ini mewakili suatu unsur yang berasal dari perkembangan Medan sebagai kota kolonial yang memiliki perbedaan dengan bangunan-bangunan kolonial lain seperti Bank Indonesia atau Balaikota. Kehilangan bangunan ini akan merusak sistem arsitektur pusat kota Medan secara keseluruhan baik secara fisik mau[un visual. Bagi PT Pos Indonesia, keberadaan kantor ini merupakan “ kebanggaan dan monumen “ perjalanan pelayanan jasa pos di Indonesia. Pelestarian gedung ini bermakna menunjukkan kepedulian PT Pos pada konservasi gedung bersejarah. Masyarakat kota Medan sangat berharap PT Pos Indonesia selaku pemilik bangunan ini tetap mempertahankan kehadiran bangunan ini sebagai “ life monument “.
Secara keseluruhan bangunan kantor pos ini tidak mengalami perubahan yang berarti sejak dibangun tahun 1909. Kecuali ada beberapa unsur bangunan yang karena ketidakpahaman terhadap konsepsi perlindungan terhadap cagar budaya diganti dengan material baru. Berdasar hasil pengamatan awal maka dapat dikemukakan bahwa kekuatan bangunan ini terletak pada konsep monumental dan penggabungan berbagai elemen arsitektur kolonial dan lokal. Berbagai kriteria perlu diangkat agar penggunaan maupun berbagai pengembangannya tidak merusak karakter arsitektural gedung.

Insinyur Snufy Sang Perancang
Gedung kantor pos Medan dirancang oleh insinyur Snufy pada tahun 1909 dan diselesaikan pembangunannya tahun 1911. Keterangan tahun selesai pembangunan tersebut tertera pada dinding bangunan. Snufy merupakan seorang insinyur pada Dinas BOW yang bertanggung jawab penuh pada bangunan-bangunan pemerintah saat itu. Bangunan kantor pos merupakan salah satu bangunan yang sejumlah milik pemerintah saat itu.

Kekhasan bangunan-bangunan kolonial awal abad 20 adalah mulai diperhatikannya unsur-unsur lokal di samping mulai dikenal adanya teknologi bangunan yang lebih baik. Penyebabnya adalah mulai berkembangnya paham politik Etis atau politik balas budi. Asal mulai politik balas budi ini ketika golongan liberal di negeri Belanda melihat bahwa cara-cara memerintah negeri jajahan seperti Hindia Belanda harus dirubah. Rakyat negeri jajahan harus dikembangkan karena akan menguntungkan bagi masa depan negeri Belanda. Bila tidak maka akan timbul pemberontakan atau gerakan yang merugikan kepentingan pemerintah kolonial. Paham ini mempengaruhi cara berpikir para birokrat bahkan para arsitek yang dipercaya merancang berbagai bangunan pemerintah. Tercatat antara lain Thomas Kartsen yang memiliki kekhasan merancang dengan mengambil berbagai unsur lokal. Henri Maclaine Point mengambil berbagai unsur rupa bangunan tradisional untuk merancang gereja Poh Sarang.

Namun agak berbeda dengan bangunan-bangunan kantor pos lain di Indonesia yang sebenarnya tidak banyak mengambil unsur tradisional. Sekalipun demikian banyak di antaranya tampil dengan ciri khas yang berbeda satu dengan yang lain. Benang merah antara gedung kantor pos dengan lainnya nyaris tidak ada. Misal kantor pos Yogyakarta, Semarang atau Bandung tidak ada unsur rupa atau bentuk yang menyerupai.

Pelestarian Untuk Manfaat Berkelanjutan
Dari tulisan ini diharapkan dapat mengetuk hati semua pihak yang memiliki peran dan kompetensi untuk melestarikan gedung ini. Bangunan bersejarah memiliki banyak keterbatasan fisik yang tidak boleh dilanggar karena akan mengakibatkan kerusakan serta kehilangan identitas arsitekturnya. Penjagaan serta perhatian dalam memelihara ciri khas ini sangat penting untuk menjaga aspek historisnya. Maka sebaiknya jangan hanya menjadikan gedung ini sebatas monumen mati yang dilestarikan fisiknya belaka. Pelestarian yang diharapkan adalah proses pemeliharaan dan perawatan secara berkelanjutan sehingga fungsinya dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Pembahasan materi ini diharapkan membuka cakrawala untuk melestarikan bangunan secara berkelanjutan sehingga memiliki manfaat antar generasi maupun masyarakat luas.

Iklan