Archives for category: Sejarah

Ada asumsi yang sering kita dengar bahwa kantor pos pada masa lalu berada di pusat kota. Kantor Pos, kabupaten, mesjid, penjara dan alun-alun. Agaknya asumsi tersebut juga berlaku di Medan. Kantor Pos Medan berada di balaikota sebagai pusat pemerintahan. Sementara penjara dan mesjid tidak ada di lapangan Merdeka karena Medan bukan prototipe kota-kota tradisional-kolonial seperti Yogyakarta atau kota kolonial yang meniru struktur kota tradisional seperti Bandung.

Titik Nol

Kantor Pos berada pada titik nol yang ditandai bangunan air mancur depan gedung ini. Pada beberapa kota, lokasi kantor pos banyak yang menjadi titik nol kota. Hal ini dimengerti karena fasilitas kantor pos dan telegraf merupakan elemen kota yang sangat strategis. Pusat kota Medan dibentuk berbagai elemen antara lain Gedung Balaikota, Gedung Javasche Bank (Bank Indonesia), lapangan, dan jalan utama selain gedung kantor pos. Bangunan lain antara lain adalah Stasiun Kota.

Dengan demikian lapangan Kesawan dan Esplanade sebenarnya memiliki hirarki berbeda. Nilai ruang Esplanade lebih tinggi karena di sini ditempatkan bangunan-bangunan penting. Esplanade bisa dikelompokkan sebagai lapangan Medan Merdeka di Jakarta atau yang lebih akrab disebut lapangan Monas. Sedangkan Kesawan bersifat lebih umum sehingga bisa dipakai untuk fungsi-fungsi pribadi masyarakat seperti rumah Tjong Afie seorang jutawan legendaries di Medan.

Hotel De Boer

Bangunan lama yang berada di sekitar (barat) kantor pos adalah Hotel De Boer yang dimiliki oleh Herman De Boer, yang merupakan salah satu pemilik restoran Grim di Surabaya. Hotel ini berDeda di jalan Balai Kota.  Boer datang ke Medan tahun 1899. Hotel ini dibangun tahun 1909 memiliki 40 buah kamar. Pasca kemerdekaan, hotel dinasionalisasi menjadi milik pemerintah Indonesia serta diganti namanya menjadi Hotel Dharma Deli. Bangunan lama hotel ini tidak dipakai lagi sebagai hotel baru adalah bangunan berlantai 6.

Gambar

Hotel De Boer Tempo Dulu.

Sumber : http://www.e-pics.ethz.ch/index/ETHBIB.Bildarchiv/ ETHBIB.Bildarchiv_Dia_249-006_29574.html

Gambar

Air Mancur Depan Kantor Pos

Sumber : http://bungryan.com/jalan-jalan/pic-medan-tempo-doeloe-bag-2/

Gedung Balaikota

Gedung Balaikota berada di lapangan Esplanada. Gedung ini dirancang oleh arsitek dari Biro Hulswit tahun 1900 yang kemudian dimodernisasi tahun 1923. Sekarang bangunan ini menjadi Kantor Walikota Medan. Sekarang bangunan ini merupakan fore ground dari bangunan baru yang berada di belakangnya. Berbagai penambahan elemen bangunan baru membuat sistem visual bangunan ini menjadi rusak karena menghalangi penampilan fasad serta membuatnya seperti tempelan belaka.

Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia ini dahulu bernama “ Javasche Bank “ yang dirancang oleh arsitek dari Biro Hulswit-Fermont & Ed. Cuypers Amsterdam tahun 1910. Bangunan ini mencirikan gaya kolonial sepenuhnya. Kehadiran bangunan ini menunjukkan bahwa kota Medan merupakan salah satu kota besar yang telah menunjukkan peran penting pada masa itu. Beberapa gedung bank lain juga hadir di lingkungan Taman Merdeka ini antara lain Bank Mandiri. Sosok bangunan ini relatif masih terjaga dengan baik karena tidak ada bangunan lain yang menghalanginya. Namun demikian bangunan inipun sebatas hanya menjadi “ unsur estetika visual saja “ bukan bagian dari estetika pengalaman karena fungsinya sebagai bangunan privat.

Taman Esplanada

Dulu taman ini adalah kebun tembakau serta rawa-rawa, namanya sekarang adalah taman Merdeka. Sebagai suatu taman, keberadaan Esplanada sesungguhnya mirip sebuah lapangan kota yang kecil karena menghadap gedung Balaikota dan beberapa perkantoran pemerintah. Sekalipun kemungkinan lapangan ini bukan satu-satunya lapangan yang besar di Medan namun demikian keberadaan Esplanada dapat dibandingkan seperti Lapangan Banteng. Pada masa lalu lapangan ini  adalah tempat rekreasi keluarga. Menurut sejarahwan Drs H Muhammad Tok Wan Haria (Muhammad TWH) di bawah Lapangan Merdeka Medan  dulu terdapat parit besar untuk pembuangan air  yang mengalir ke sungai Deli.

Keberadaan gedung kantor pos di depan lapangan seperti ini merupakan prototipe kantor-kantor pos lain di beberapa kota antara lain Bandung, Magelang dan kota-kota kecil lainnya. Namun keberadaan kantor pos yang berhadap-hadapan dengan gedung balaikota hanya ditemukan di Medan. Sayang keberadaan taman Merdeka menjadi rusak baik secara citra, visual maupun fisik ini dipengaruhi oleh bangunan-bangunan modern antara lain café dan sebagainya. Ada beberapa bagian taman ini yang dibangun beberapa bangunan semi permanen. Akibatnya keindahan taman ini tidak lagi nampak.

Lapangan ini yang seharusnya terbuka kini dipenuhi bangunan-bangunan semi permanen yang berfungsi sebagai restoran dan café. Kehadirannya sekarang ini yang dipenuhi bangunan-bangunan baru tersebut sangat mengganggu system visual sebagai sebuah ruang terbuka kota.Di tempat inilah diselenggarakan pasar malam pertama pada tahun 1908. Sedangkan Museum Medan berada di depan pos polisi yang terbakar tahun 1944.

Gedung kantor pos Medan merupakan salah satu bangunan kolonial cagar budaya dengan nilai-nilai arsitektur sangat menarik. Eksplorasi gedung ini masih sangat terbatas pada beberapa deskripsi fisik yang kurang mendalam serta tidak memperhatikan nilai-nilai arsitekturnya.

Medan Kota Kolonial
Perkembangan Medan menjadi kota besar menerima banyak berbagai budaya lokal maupun asing seperti India, Cina dan Belanda. Hal ini semakin pesat terjadi ketika Belanda menguasai Medan dan sekitarnya, proses interaksi budaya dengan para pendatang semakin tinggi. Orang India, Arab maupun orang-orang asing dari daratan Cina didatangkan sebagai pekerja menempati Medan. Jejak-jejak alkulturasi budaya dalam konteks arsitektur ini dapat dilihat dari berbagai bangunan yang ada di sini.
Pemerintah Belanda membangun kota ini baik secara fisik maupun sosial sebagai kota yang memiliki ciri ciri kota kolonial. Budaya kolonial Belanda yang dominan tidak serta merta menghapuskan lokalitas tersebut bahkan sebaliknya beradaptasi dengan budaya setempat. Keragaman tersebut membentuk karakter kota Medan yang pluralistik dan unik.
Salah satu peninggalan kolonial di kawasan pusat kota Medan adalah gedung Kantor Pos Medan. Bangunan ini berada di depan lapangan Kesawan yang dulu bernama Esplanada. Sekilas bangunan ini nampak megah dan berbeda dengan berbagai bangunan kolonial lain yang ada di lingkungan tersebut. Gedung ini hingga sekarang masih dipakai sebagai wadah pelayanan pos. Menurut Luckmann pelayanan pos di Medan sudah ada sejak tahun 1879 atau 1883. Pada saat kantor pos dibangun, kota Medan sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini tidak mengherankan karena Medan merupakan kota besar di Sumatera sehingga tidak mustahil berbagai aktivitas industry, perkebunan dan perdagangan sudah berkembang pesat dan membutuhkan layanan jasa pos.

Land Mark Medan
Bangunan ini dianggap sebagai land mark atau tetenger (penanda) bagi kota Medan. Bangunan ini mewakili suatu unsur yang berasal dari perkembangan Medan sebagai kota kolonial yang memiliki perbedaan dengan bangunan-bangunan kolonial lain seperti Bank Indonesia atau Balaikota. Kehilangan bangunan ini akan merusak sistem arsitektur pusat kota Medan secara keseluruhan baik secara fisik mau[un visual. Bagi PT Pos Indonesia, keberadaan kantor ini merupakan “ kebanggaan dan monumen “ perjalanan pelayanan jasa pos di Indonesia. Pelestarian gedung ini bermakna menunjukkan kepedulian PT Pos pada konservasi gedung bersejarah. Masyarakat kota Medan sangat berharap PT Pos Indonesia selaku pemilik bangunan ini tetap mempertahankan kehadiran bangunan ini sebagai “ life monument “.
Secara keseluruhan bangunan kantor pos ini tidak mengalami perubahan yang berarti sejak dibangun tahun 1909. Kecuali ada beberapa unsur bangunan yang karena ketidakpahaman terhadap konsepsi perlindungan terhadap cagar budaya diganti dengan material baru. Berdasar hasil pengamatan awal maka dapat dikemukakan bahwa kekuatan bangunan ini terletak pada konsep monumental dan penggabungan berbagai elemen arsitektur kolonial dan lokal. Berbagai kriteria perlu diangkat agar penggunaan maupun berbagai pengembangannya tidak merusak karakter arsitektural gedung.

Insinyur Snufy Sang Perancang
Gedung kantor pos Medan dirancang oleh insinyur Snufy pada tahun 1909 dan diselesaikan pembangunannya tahun 1911. Keterangan tahun selesai pembangunan tersebut tertera pada dinding bangunan. Snufy merupakan seorang insinyur pada Dinas BOW yang bertanggung jawab penuh pada bangunan-bangunan pemerintah saat itu. Bangunan kantor pos merupakan salah satu bangunan yang sejumlah milik pemerintah saat itu.

Kekhasan bangunan-bangunan kolonial awal abad 20 adalah mulai diperhatikannya unsur-unsur lokal di samping mulai dikenal adanya teknologi bangunan yang lebih baik. Penyebabnya adalah mulai berkembangnya paham politik Etis atau politik balas budi. Asal mulai politik balas budi ini ketika golongan liberal di negeri Belanda melihat bahwa cara-cara memerintah negeri jajahan seperti Hindia Belanda harus dirubah. Rakyat negeri jajahan harus dikembangkan karena akan menguntungkan bagi masa depan negeri Belanda. Bila tidak maka akan timbul pemberontakan atau gerakan yang merugikan kepentingan pemerintah kolonial. Paham ini mempengaruhi cara berpikir para birokrat bahkan para arsitek yang dipercaya merancang berbagai bangunan pemerintah. Tercatat antara lain Thomas Kartsen yang memiliki kekhasan merancang dengan mengambil berbagai unsur lokal. Henri Maclaine Point mengambil berbagai unsur rupa bangunan tradisional untuk merancang gereja Poh Sarang.

Namun agak berbeda dengan bangunan-bangunan kantor pos lain di Indonesia yang sebenarnya tidak banyak mengambil unsur tradisional. Sekalipun demikian banyak di antaranya tampil dengan ciri khas yang berbeda satu dengan yang lain. Benang merah antara gedung kantor pos dengan lainnya nyaris tidak ada. Misal kantor pos Yogyakarta, Semarang atau Bandung tidak ada unsur rupa atau bentuk yang menyerupai.

Pelestarian Untuk Manfaat Berkelanjutan
Dari tulisan ini diharapkan dapat mengetuk hati semua pihak yang memiliki peran dan kompetensi untuk melestarikan gedung ini. Bangunan bersejarah memiliki banyak keterbatasan fisik yang tidak boleh dilanggar karena akan mengakibatkan kerusakan serta kehilangan identitas arsitekturnya. Penjagaan serta perhatian dalam memelihara ciri khas ini sangat penting untuk menjaga aspek historisnya. Maka sebaiknya jangan hanya menjadikan gedung ini sebatas monumen mati yang dilestarikan fisiknya belaka. Pelestarian yang diharapkan adalah proses pemeliharaan dan perawatan secara berkelanjutan sehingga fungsinya dapat dikembangkan sesuai kebutuhan. Pembahasan materi ini diharapkan membuka cakrawala untuk melestarikan bangunan secara berkelanjutan sehingga memiliki manfaat antar generasi maupun masyarakat luas.

Post Heritage adalah perkumpulan atau komunitas pemerhati dan studi yang bersifat nir-laba untuk melestarikan gedung-gedung kantor pos bersejarah di Indonesia. Kelahiran komunitas ini didasarkan pada keprihatinan pada kondisi bangunan kantor-kantor pos yang bersejarah. Alih-alih dilakukan pelestarian, ada beberapa di antaranya dirubah semuanya tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi. Baca entri selengkapnya »